Posts Tagged ‘Sejarah.’

Bukti tertua mengenai keberadaan Aksara Nusantara yaitu berupa tujuh buah yupa (tiang batu untuk menambatkan tali pengikat sapi) yang bertuliskan prasasti mengenai upacara waprakeswara yang diadakan oleh Mulawarmman, Raja Kutai di daerah Kalimantan Timur. Tulisan pada yupa-yupa tersebut menggunakan aksara Pallawa dan Bahasa Sanskrta. Berdasarkan tinjauan pada bentuk huruf Aksara Pallawa pada yupa, para ahli menyimpulkan bahwa yupa-yupa tersebut dibuat pada sekitar abad ke IV.

Setidaknya sejak abad ke IV itulah Bangsa Indonesia telah mengenal bahasa tulis yang terus berkembang mengikuti perkembangan bahasa lisan. Perkembangan ini dimulai terutama sejak bahasa daerah (misalnya Bahasa Melayu Kuno dan Bahasa Jawa Kuno) juga dituangkan dalam bentuk tulisan selain dari Bahasa Sanskerta yang pada masa sebelumnya merupakan satu-satunya bahasa yang lazim dituliskan. Sejak abad XV aksara Nusantara berkembang pesat dengan ditandai beraneka-ragamnya aksara untuk menuliskan berbagai bahasa daerah hingga kemudian peranannya mulai tergeser oleh abjad Arab dan alfabet Latin.

Hampir semua aksara daerah di Indonesia merupakan turunan Aksara Pallawa yang berasal dari daerah India Selatan. Aksara Jawi, Aksara Pegon, dan Aksara Bilang-bilang merupakan turunan Abjad Arab, sedangkan Aksara Nagari berasal dari daerah India Utara. Baik Aksara Pallawa maupun Aksara Nagari adalah turunan dari Aksara Brahmi yang merupakan induk semua aksara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Istilah Aksara Nusantara juga bisa digunakan untuk merangkum aksara-aksara yang digunakan dan berkembang di Kepulauan Filipina. Hampir semua aksara daerah di Filipina merupakan turunan Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuno). Aksara-aksara ini meliputi Aksara Baybayin, Aksara Tagbanwa, Aksara Buhid, Aksara Hanunó’o, dan Aksara Kapampangan. Sedangkan Aksara Eskaya merupakan hasil budaya asli Bangsa Filipina.

Beberapa aksara daerah dinamai menurut susunan huruf-hurufnya atau menurut nama abecedarium aksara tersebut. Demikianlah maka Aksara Jawa Baru dan Aksara Bali disebut Aksara Hanacaraka; sedangkan Aksara Rejang, Aksara Kerinci, Aksara Lampung, dan Aksara Sunda Baku disebut juga Aksara Kaganga mengikuti abecedarium Aksara Pallawa : ka kha ga gha nga.

Ada pendapat sebelum hadir abjad Arab dan Latin sekarang, tulisan yang lazim dipergunakan di kawasan Asia Tenggara (kecuali di Vietnam dan sebagian kalangan penduduk Cina Selatan) diduga sebagian besar dari pengaruh India. Begitu pun halnya yang terjadi di Nusantara. Para sarjana (pribumi dan asing) hampir selalu mengajukan pendapat senada bahwa aksara di Nusantarahadir sejalan dengan berkembangnya unsur (Hindu-Buddha) dari India yang datang dan menetap, melangsungkan kehidupannya dengan menikahi penduduk setempat. Maka sangat wajar, langsung atau tidak langsung disamping mengenalkan budaya dari negeri asalnya sambil mempelajari budaya setempat di lingkungan pemukiman baru, salah satu implikasinya adalah bentuk aksara (de Casparis:1975).

Namun sejauh fakta yang ada, pendapat itu tidak disertai penjelasan tuntas hingga pada suatu waktu seorang ahli epigrafi yang berkebangsaan Perancis bernama Louis Charles Damais (1951-55) yang menyatakan bahwa hipotesis para ahli tersebut belum benar-benar menegaskan dari mana dan bagaimana awal kehadiran serta mengalirnya arus kebudayaan India ke Nusantara kecuali diperkirakan tidak hanya berasal dari satu tempat saja, tetapi juga dari berbagai tempat lainnya. Walaupun tidak dipungkiri bahwa aksara-aksara di Nusantara memang menampakkan aliran India Selatan atau aliran India Utara, namun juga cukup rumit dan sulit ditentukan darimana kepastian awalnya sebab meskipun ada pengaruh India, tetapi kebudayaan India tidaklah berperan sepenuhnya terhadap lahirnya aksara di Nusantara khususnya suku bangsa yang menghasilkan sumber tertulis dengan mempergunakan aksara-aksara nasional atau aksara daerah yang tergolong kuno itu.

Ada asumsi bahwa kebudayaan India datang ke Nusantara semata karena peran cendekiawan Nusantara sendiri yang telah turut ambil bagian ke kancah pergaulan politik internasional, tetapi tidak berarti bahwa di kala itu bangsa Nusantara belum mengenal aksara sebagai alat melakukan interaksi sosial dengan bangsa-bangsa lain. Wujud ataupun bentuk aksara yang berperan pada periode itu pun sesungguh-sungguhnya merupakan hasil daya cipta cendekiawan lokal yang telah meramu secara selektif unsur-unsur asing dari berbagai aliran yang pada klimaksnya mencapai kesepakatan gaya jenis dan bentuk aksara sesuai kondisi wilayah, budaya. Saat berlangsungnya proses inovasi, masyarakat Nusantara telah mencapai kondisi siap mental, karena itu tatkala inovasi asing (luar) tiba, khususnya dari India, masyarakat Nusantara segera dapat mencerna dan menyesuaikan diri tentu dengan melalui pengetahuan dan pengalaman kebudayaan setempat (Damais 1952; 1955).

Sejarah mencatat bahwa aksara tertua di Nusantara (Asia Tenggara umumnya) disebarluaskan seiring dengan menyebarnya agama Buddha. Jenis aksara yang semula dipergunakan untuk menulis ajaran. mantra-mantra suci atau teks-teks dengan jenis aksara yang dipakainya disebut Sidhhamatrika, disingkat Siddham. Tetapi sarjana Belanda lebih menyukai istilah Prenagari (Damais 1995; Sedyawati 1978). Jenis aksara inilah yang kemudian berkembang di Asia Tenggara walaupun hanya terbatas atau terpatri, untuk menulis teks-teks keagamaan pada media tablet, materai atau stupika yang dibuat dari tanah liat (bakar atau terakota) atau dijemur dan dikeringkan matahari. Objek tekstual jenis ini hampir dipastikan tidak atau jarang disertai unsur pertanggalan, karenanya sulit ditentukan periodenya secara tepat. Namun melalui analisis palaeografis yakni perbandingan kemiripan tipe, gaya, bentuk aksara dari zaman ke zaman, maka khusus aksara pada tablet, meterai atau stupika yang ditemukan di Asia Tenggara diperkirakan dari sekitar abad pertama sampai ketiga Masehi. Di Nusantara benda-benda seperti ini ditemukan di Sumatra, Jawa dan Bali dengan menggunakan bahasa Sanskerta.

Aksara yang kemudian lebih populer di Nusantara adalah aksara dari (dinasti) Pallava (India Selatan) selanjutnya disebut aksara Pallawa (saja), juga memiliki kecenderungan tidak menyertakan unsur pertanggalan, dijumpai pada prasasti tujuh Yupa (tugu peringatan kurban) kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) yang diperkirakan dari tahun 400 Masehi dan sejumlah prasasti dari kerajaan Tarumanagara (Jawa Barat) tahun 450 Masehi.

Kedua kerajaan yang cukup jauh letaknya sama-sama mengggunakan aksara Pallawa-Grantha dan bahasa Sanskerta dengan gaya khas inovasinya. Prasasti-prasasti masa Tarumanagara dipahatkan pada batu alam. Khusus prasasti Ciaruteun dan Muara Cianten (Kampung Muara), di tepi sungai Cisadane dan Cibungbulang (Bogor), Jawa Barat, disusun dan ditata dengan metrum (sloka) Sanskerta, ada juga yang berpahatkan pilin, umbi-umbian dan sulur-suluran. Beberapa sarjana menyebut pahatan pilin, umbi, dan sulur-suluran itu sebagai bentuk aksara khusus yang disebut kru-lettersconch-shell-script atau aksara sangkha.

Ragam hias yang kemudian lebih banyak ditemukan sebagai karya asli pribumi khususnya berkembang di beberapa daerah di Sulawesi. Karakter-karakter yang memiliki keistimewaan sebagai hasil daya cipta setempat yang telah sangat tua yang dikembangkan di alam dan lingkungan kebudayaan yang didasari kemapanan kreativitas dan berkembang sesuai kondisinya. Ciri perkembangan inilah yang kemudian menjadi rumit sebab setiap individu atau kelompok masyarakat dari suatu lingkungan kebudayaan memiliki konsep-konsep untuk mengembangkan gaya dan bentuk aksara selanjutnya melahirkan tipe-tipe khas pendukung budaya.

Sejak awal kehadirannya aksara-aksara di kawasan Asia Tenggara hadir berkembang pada periode-periode yang hampir sama menunjukkan adanya kemiripan berlangsung hingga abad ke-8 Masehi. Meskipun dalam beberapa hal masih memperlihatkan pengaruh Pallawa seperti gaya aksara masa sesudahnya yang oleh Boechari disebut aksara Pasca-Pallawa, namun hampir di setiap wilayah Asia Tenggara daratan dan kepulauan (Nusantara/Dwipantara) sekurang-kurangnya abad ke-8 Masehi telah berkembang aksara yang pada prinsipnya sama tetapi memiliki corak-corak khusus (tersendiri).

Gaya dan jenis aksara sebagian besar mirip aksara pada sejumlah dokumen (sumber) tertulis di Sumatra dan Jawa mempergunakan jenis bahasa pengantar yang dikenal berkembang pada masing-masing daerah pendukung budaya (Malayu Kuno, Jawa Kuno, Sunda Kuno dan Bali Kuno).

 

Perubahan Aksara Pallawa (kolom paling kiri) menjadi sejumlah aksara Nusantara. Kolom kedelapan adalah Aksara Jawa Baru (Hanacaraka), kolom kesembilan adalah Aksara Bali, dan kolom paling kanan adalah Aksara Bugis (Lontara).

Perubahan Aksara Pallawa (kolom paling kiri) menjadi sejumlah aksara Nusantara. Kolom kedelapan adalah Aksara Jawa Baru (Hanacaraka), kolom kesembilan adalah Aksara Bali, dan kolom paling kanan adalah Aksara Bugis (Lontara).

Beberapa pendapat menyatakan bahwa kemungkinan aksara-aksara yang hadir di Nusantara merupakan perkembangan dari aksara Pallawa namun ciri dan pertaliannya masih belum benar-benar dijelaskan, sebab difrensiasi ciri atas aksara-aksara lokal dan kaitannya kepada Pallawa terlampau jauh. Batas antara gaya aksara yang satu (lebih tua) dengan yang hadir kemudian sulit ditentukan, kemungkinan keduanya berkembang secara hampir bersamaan. Atau gaya yang telah ada kemungkinan tersilih oleh kehadiran gaya dan jenis aksara yang baru, peralihan dan pergantian sesuai perkembangan zaman seperti yang terjadi dengan munculnya aksara Pegon dan Latin. Yang baru telah berkembang lebih meluas sedangkan yang lama berkembang secara lokal saja. Perbedaan tersebut nampak seperti yang kemudian berkembang sebagai aksara Jawa (tengahan atau baru).

Silsilah Aksara Nusantara

silsilah aksara nusantara

Periodisasi Aksara Nusantara

  1. Zaman Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha

Aksara yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha pada umumnya digunakan untuk menuliskan Bahasa Sanskerta atau bahasa daerah yang sangat berpengaruh.

  • Aksara Pallawa
  • Aksara Nagari
  • Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuna)
  • Aksara Buda
  • Aksara Sunda Kuna
  • Aksara Proto-Sumatera

  1. Zaman Kerajaan-Kerajaan Islam

Aksara yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Islam di antaranya memiliki huruf untuk menuliskan bunyi dalam Bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa daerah (misalnya Aksara Jawa dan Aksara Bali) ataupun sistem vokalnya mengikuti sistem vokal Abjad Arab yang hanya mengenal tiga bunyi vokal (misalnya Aksara Kerinci dan Aksara Buhid).

  1. Zaman Modern

Aksara daerah yang berkembang pada zaman modern memiliki huruf untuk menuliskan bunyi dalam Bahasa Arab (misalnya f dan z) dan Bahasa Latin (misalnya x dan v) yang tidak terdapat dalam bahasa daerah.

Variasi

Seiring perubahan zaman, budaya, dan bahasa masyarakat penggunanya, suatu aksara dapat mengalami perubahan jumlah huruf, bentuk huruf maupun bunyinya, walaupun tetap saja dianggap sebagai bagian dari aksara induknya; atau dengan kata lain, tidak terpecah menjadi aksara baru. Demikianlah misalnya Abjad Arabyang digunakan untuk menuliskan Bahasa Arab sedikit berbeda dengan Abjad Arab yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Melayu, atau juga Alfabet Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Latin sedikit berbeda dengan Alfabet Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Jerman. Dalam perjalanan sejarahnyapun Aksara Nusantara tidak luput dari kecenderungan untuk memunculkan variasi-variasi baru yang tetap mempertahankan kaidah inti aksara induknya.

Beberapa variasi Aksara Nusantara antara lain:

–        Aksara Kayuwangi: Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang ditulis dengan bentuk membundar miring. Disebut Aksara Kayuwangi karena variasi ini banyak dijumpai pada prasasti dari sebelum hingga setelah masa pemerintahan Rakai KayuwangiRaja Mataram (855 – 885). Oleh para ahli epigrafi Indonesia, variasi ini dianggap sebagai jenis tulisan Kawi yang paling indah.

–        Aksara Kuadrat: Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang ditulis dengan bentuk huruf menyerupai kotak / bujursangkar. Dari situlah variasi ini memperoleh namanya. Variasi ini banyak dijumpai pada prasasti dari masa Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singasari.

–        Aksara Majapahit: Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang tiap hurufnya ditulis dengan banyak hiasan sehingga kadang kala sulit dikenali / sulit dibaca. Disebut Aksara Majapahit karena variasi ini banyak dijumpai dari masa Kerajaan Majapahit.

–        Aksara Toba: Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Toba.

–        Aksara Karo: Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Karo.

–        Aksara Dairi: Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Dairi.

–        Aksara Simalungun: Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Simalungun.

–        Aksara Mandailing: Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Mandailing.

–        Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Pasemah

–        Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Serawai

–        Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Lembak

–        Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Rejang

–        Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa.

–        Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa Kuno.

–        Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa dialek Banten.

–        Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa dialek Cirebon.

–        Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Sunda / Aksara Sunda Cacarakan.

–        Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Bali.

–        Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Bali Kuno.

–        Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Sasak.

–        Aksara Jangang-jangang : Variasi dengan bentuk-bentuk huruf tersendiri untuk menuliskan Bahasa Makassar.

–        Aksara Bilang-bilang : Variasi dengan bentuk-bentuk tersendiri untuk menuliskan Bahasa Bugis.

–        Aksara Lota Ende : Variasi dengan bentuk-bentuk huruf tersendiri untuk menuliskan Bahasa Ende.

–        Aksara Makassar : Variasi ini merupakan Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Makassar.

–        Aksara Bugis : Variasi ini merupakan Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Bugis.

–        Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Luwu.

–        Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Bima.

 

Aksara Lain yang Digunakan di Nusantara 

–        Aksara Jawi untuk Bahasa Melayu

–        Aksara Pegon untuk Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda

–        Ejaan Van Ophuijsen

–        Ejaan Soewandi

–        EYD

  1. Husein Djayadiningrat // Critische Beschouwing Wan De Sadjarah Banten (1913), berdasarkan naskah Babad Banten.
  2. R.M.Ng. Poerbatjaraka // Arjuna-Wiwaha (1926) .
  3. Teuku Iskandar // De Hikajat Atjeh (1959).
  4. Naguib Al-Attas // The Mysticism Of Hamzah Fansuri (1970), dari buku Hamzah Fansuri.
  5. Siti Soleh // Hikayat Merong Mahawangsa (1970).
  6. Haryati Soebadio // Jnānasiddhanta (1971).
  7. S. Soebardi // The Boek Of Cabolek (1975), berdasarkan naskah Serat Cabolek.
  8. S. Supomo // Arjuna-Wiwaha (1977).
  9. Edi Ekajati // Cerita Dipati Ukur (1978), dari naskah sejarah tradisional Sunda.
  10. Herman Sumantri // Sejarah Sukapura (1979), dari naskah sejarah tradisional Sunda.
  11. Sulastin Sutrisno // Hikayat Hang Tuah; Analisis Struktur Dan Fungsi (1979).
  12. Achadiati Ikram // Hikyat Sri Rama Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat Dan Struktur (1980).
  13. Prof. R. Prijana.
  14. Nabilah Lubis // Syech Yusuf Al-Taj Al-Makassari, Menyingkap Intisari Segala Rahasia

Sumber:

Baried, Siti Baroroh. 1994.Pengantar Teori Filologi.Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas.

SEJARAH FILOLOGI

Posted: Juni 14, 2013 in Sejarah Islam
Tag:,

 

Filologi Di Kawasan Asia : India

 

Semenjak bangsa-bangsa di kawasan Asia yang telah memiliki beradaban tinggi itu mengenal suatu huruf, sebagian besar dari kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah, suatu jenis dokumen yang memberi informasi yang banyak mengenai kehidupan pada masa yang lampau. Sehingga terbentuklah Studi filologi terhadap naskah-naskah yang berhasil membuka khazanah kebudayaan Asia serta telah menyajikan isi naskah-naskah tersebut untuk kepentingan studi humaniora di Asia pada umumnya sehingga dapat menjelaskan sejarah Asia serta kebudayaannya dan membuka hubungan Asia dengan kawasan di luar Asia akan arus budaya yang pernah berhubungan dengan kebudayaan Asia.

Di antara bangsa Asia yang memeliki cukup dokumen masa lampau adalah bangsa India. Kontak langsung dengan bangsa Yunani yang juga memiliki kebudayan tinggi terjadi pada zaman Raja Iskandar Zulkarnain yang  mengandakan perjalanan sampai ke India pada abad ke-3 SM. Kebudayaan yang ada di India banyak dipengaruhi oleh budaya Yunani ini dibuktikan dengan adanya seni patung Budha yang ditemukan di daerah Gandhara dipahat seperti patung Apollo yang memakai jubah tebal.

 Pada abad ke-1, mulailah terjadi kontak antara bangsa India dengan Cina. Pada abad itu, sekelompok pendeta Budha mengadakan perjalanan dakwah ke Cina, sebaliknya ada beberapa musafir Cina mengadakan perjalanan ziarah ketempat-tempat suci agama Budha di India. Di dalam sejarah tercatat ada tiga orang yaitu Fa-hiang yang berkunjung ke India pada tahun 399, Hiuen-tsing pada tahun 630-644, dan I-tsing pada tahun 671-695. Mereka telah menerjemahkan naskah-naskah India ke dalam bahasa Cina, bahkan I-tsing menulis ringkasan 8 bab ilmu kedokteran India ke dalam bahasa Cina.

Berdasarkan telaah filologi mengemukakan bahwa kontak antara bangsa India dengan Persi terjadi paling awal pada abad ke-6, yaitu disalinnya karya sastra Pancatantra yang digubah pada abad ke-3 di India oleh seorang Waisynawa dan diterjemahkan kedalam bahasa Persi oleh Burzue atas perintah Kaisar Anusyirwan dari dinasti Sasaniah (531-579).  

 

Naskah-Naskah India

Naskah India yang paling tua adalah kesastraan Weda, ialah kitab suci agama Hindu, yang mengandung 4 bagian : Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atarwaweda, yang diperkirakan disusun pada abad ke-6 SM, isi dari kitab ini yaitu tentang kepercayaan kepada dewa, penyembahan secara ritual, mantra-mantra yang mengiringi upacara agama Hindu, dan ilmu sihir. Naskah lain dari kesustraan India yaitu kitab suci Brahmana yang berisi mengenai penciptaan dunia dan isinya, cerita para dewa, serta cerita mengenai persajian. Kitab Aranyaka yang berisi petunjuk bagi petapa yang menjalani kehidupan dalam hutan-hutan. Kitab Upanisad berisi masalah filsafat yang memikirkan rahasia dunia. Di samping itu terdapat pula naskah yang bersifat wiracerita seperti Mahabarata dan Ramayana, dan kitab-kitab lain seperti Harsacarita, Buddhacarita, Pancatatra, Sukasaptati, Hitopadesa serta karya yang berisi ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, tatabahasa, hukum, dan politik.

 

Telaah Filologi Terhadap Naskah-Naskah India

Naskah-naskah India yang berbagai aspek kebudayaan, baru ditelaah semenjak datangnya bangsa Barat di kawasan itu yaitu setelah ditemukannya jalan laut ke India oleh Vasco da Gama pada tahun 1498. Mereka menemukan kebudayaan India, sebagai hasil telaahnya terhadap naskah-naskah India. Mula-mula mereka mengetahui adanya bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Gujarati, bahasa Bengalia sebelum abad ke-19, baru pada awal abad ke-19 barulah mengetahui tentang bahasa Sansekerta, dan pada akhir abad ke-19 barulah ditemukan kitab-kitab Weda. Hasil kajian filologi terhadap naskah-naskah itu mulai dipublikasikan Abraham Roger dari Belanda melalui karangannya yang berjudul Open Door to Hidden Heatthendom pada tahun 1651. Tata bahasa Sansekerta mula-mula ditulis oleh Hanxleden seorang pendeta berkebangsaan Jerman, dalam bahasa Latin. Karangan ini dipublikasikan di Roma oleh penginjil berkebangsaan Austria bernama Fra Paolo Bartolomeo pada tahun 1790.

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal Warren Hasting s dari Inggris mempunyai hasrat untuk menyusun kitab hukum berdasarkan hukum yang ditulis dalam naskah-naskah lama bangsa India.  Hukum dalam naskah-naskah itu digalinya kemudian diterbitkan pada tahun 1776 di London. Pada tahun 1784, sebuah kegiatan filologi bernama The Asiatic Society didirikan di Bengal oleh para orientalis Inggris yang saat itu bekerja di India.

Pada abad ke-19, dikenal nama Alexander Hamilton (Inggris) dan Friedrich Schlegel (Jerman) yang dipandang sebagai ahli yang memajukan studi naskah-naskah Sansekerta di Eropa. Friedrich menulis sebuah buku yang berjudul On the Language and Wisdom of the Indian pada tahun 1808. Sampai pada pertengahan abad ke-19 telah banyak dilakukan telaah terhadap karya sastra klasik India. Dengan telaah yang dilakukan terhadap kesustraan India dari segi materinya telah dipandang lengkap.

 

 

Filologi di Kawasan Nusantara

Nusantara merupakan kawasan yang memiliki peradaban tinggi dan diwariskan secara turun-temurun melalui berbagai media, antara lain media tulisan yang berupa naskah-naskah. Kawasan Nusantara terbagi dalam banyak kelompok etnis yang masing-masing memiliki bentuk kebudayaan yang khas, tanpa meninggalkan kekhasan kebudayaan Nusantara. Naskah-naskah Nusantara mulai timbul dengan hadirnya bangsa Barat di kawasan ini pada abad ke-16. Pertama-tama yang mengetahui naskah-naskah lama itu adalah para pedagang. Mereka menilai naskah-naskah itu sebagai barang dagangan yang mendatangkan untung yang besar sehingga mereka mengumpulkan naskah-naskah itu dari perorangan atau dari tempat-tempat koleksi, seperti pesantren atau kuil-kuil, kemudian mereka membawanya ke Eropa, kemudian menjualnya kepada perorangan ataupun kepada lembaga-lembaga yang mengoleksi naskah-naskah lama. Seorang yang dikenal bergerak dalam usaha perdagangan naskah adalah Peter Floris atau Peter Willemz. Van Elbinck yang pernah tinggal di Aceh pada tahun 1604 mempunyai sebuah naskah kemudian menjualnya kepada Thomas Erpenius. Nama lain yang dikenal menerima naskah-naskah Nusantara dari para pedagang yaitu Edward Picocke yang memiliki naskah Hikayat Sri Rama tertua.

Pada tahun 1629, 33 tahun setelah tibanya kapal Belanda pertama di kepulauan Nusantara, terbitlah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Melayu. Dr.Melchior Leijdecker (1645-1701), yaitu seorang penginjil yang menaruh minat terhadap naskah-naskah Melayu menerjemahkan Beibel kedalam bahasa Melayu. Penginjil lain yang dikenal akrab dengan bahasa dan kesastraan Melayu adalah G.H.Werndly, yang mengarang buku berjudul Maleische Spraakkunst (1736), di dalam lampirannya diberi nama “Malaische Boekzaal” dia menysun daftar naskah-naskah Melayu yang dikenalnya sebanyak 69 naskah.

Kajian terhadap naskah-naskah filologi Nusantara bertujuan untuk menyunting, membahas serta menganalisisnya, atau untuk kedua-duanya. Inilah kegiatan awal dari kehadiran tenaga penginjil yang dikirim oleh NBG ke Indonesia. Pada tahap awalnya kajian itu terutama untuk tujuan penyuntingan akan tetapi tenaga masih terbatas sehingga kegiatan itu diarahkan untuk naskah Jawa dan Melayu. Hasil suntingan pada umumnya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya, ialah huruf Jawa, huruf pegon atau huruf Jawi, dengan disertai pengantar atau pendahuluan yang sangat singkat, tanpa analisis isinya, misalnya suntingan Ramayana Kakawin oleh H. Kern (1900), dan Syair Bidasari oleh Hoevell (1843).

Perkembangan selanjutnya, naskah itu disunting dalam bentuk translasi dalam bentuk huruf Latin, misalnya Wrettasantjaja (1849), Ardjoena Wiwaha (1850), dan Bomakawya (1850).

Dalam perkembangan selanjutnya suntingan naskah sudah disertai dengan terjemahannya dalam bahasa asing, terutama bahasa Belanda, misalnya Sang Hyang Kamahayanikan, Oud-Javaansche tekst met inleiding, vertaling en aanteekeningen oleh J. Kats (1910). Suntingan naskah pada abad ke-20 umumnya disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris atau Belanda, bahkan ada yang diterbitkan hanya terjemahannya, misalnya Sejarah Melayu oleh Leyden (1821).

Pada pertenganhan abad ke-20, suntingan naskah dengan kritik teks banyak dilakukan sehingga menghasilkan suntingan yang lebih mantap daripada suntingan sebelumnya. Terbitan jenis ini banyak disertai terjemahan dalam bahasa Inggris, Belanda, atau Jerman. Contoh naskah dalam perkembangan ini seperti Het Boek der Duizend Vragen oleh G.F. Pijper (1924) berdasarkan naskah Hikayat Seribu Masalah, Shair Ken Tambunan oleh Teeuw (1966), Hikayat Merong Mahawangsa oleh Siti Hawa Soleh (1970), Arjuna-wiwaha oleh S. Supomo (1977). Pada abad ini pula muncul terbitan ulangan dari naskah yang pernah disunting sebelumnya dengan maksud untuk menyempurnakan, misalnya terbitan sebuah Primbon Jawa dari abad ke-16. Pertama, dikerjakan oleh Gunning (1881) dengan metode diplomatik, kemudian pada tahun 1921 disunting lagi oleh H. Kraemer dengan judul Een Javaansche Primbon uit de Zestiende Eeuw, dan kemudian pada tahun 1954 diterbitkan lagi oleh C.W.J. Drewes dengan judul yang sama.

Selanjutnya banyak diterbitkan naskah keagamaan, baik naskah Melayu maupun naskah Jawa sehingga kandungan isinya dapat dikaji oleh ahli teologi dan dapat menghasilkan karya ilmiah dalam bidang tersebut. Adapula yang mengkaji naskah-naskah sejarah oleh para ahli sejarah seperti suntingan yang dikerjakan oleh Teuku Iskandar berjudul De Hikajat Atjeh (1959) berdasarkan naskah Hikayat Aceh.

Pada periode mutakhir, mulai dirintis telaah naskah-naskah Nusantara dengan analisis berdasarkan ilmu Barat, misalnya analisis struktur dan amanat terhadap naskah Hikayat Sri Rama dikerjakan oleh Achadiati Ikram berjudul Hikayat Sri Rama Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur (1980).

Dengan telah dikenalinya dan tersedianya suntingan sejumlah naskah-naskah Nusantara maka terbukalah kemungkinan menyusun sejarah kesastraan Nusantara atau kesastraan daerah. Sehingga mendorong berbagai kegiatan ilmiah yang hasilnya dimanfaatkan oleh berbagai disiplin ilmu, terutama disiplin humaniora dan disiplin ilmu-ilmu sosial.