Posts Tagged ‘Dilema’

D I L E M A

Posted: Juni 13, 2013 in Buku, Cerpen
Tag:, , ,

Di sebuah desa, terdapat seorang pemuda yang bernama Zainuddin. Ada syarat bahwa seorang pemuda barulah dapat disebut pemuda tangguh, apabila pernah meninggalkan desanya berlayar mengarungi lautan dan melihat perkembangan di daerah lain mencari ilmu, tidak mesti tetap tinggal di desa sendiri dengan mengandalkan apa yang ada.

Zainuddin berpikir untuk memenuhi syarat itu.

Dengan bekal apa adanya Zainuddin mendekati pantai. Di pantai sedang sandar dan berlabuh sebuah kapal, Zainuddin menemui nahkoda kapal tersebut. Setelah bertemu, Zainuddin mengutarakan maksudnya untuk ikut berlayar guna memenuhi syarat sebagai seorang pemuda tangguh.

Mendengar maksud itu Sang Nahkoda pun menerima Zainuddin, dengan penekanan bahwa selama Zainuddin ikut dalam pelayaran, dia harus taat terhadap perintah Nahkoda.

Zainuddin menganggup siap…

Tibalah jam yang ditetapkan untuk berlayar maka kapal itu meninggalkan pelabuhan. Baru saja beberapa menit kapal meninggalkan pantai, terlihat cahaya kilat dan terdengar bunyi petir sedangkan di hadapan kapal terlihat kabut pertanda badai akan menghadang. Melihat cuaca seperti itu, Zainuddin menemui Nahkoda dan melapor keadaan cuaca dan keadaan kapal.

Pak……,kata Zainuddin pada Nahkoda, “Pantai masih jelas kelihatan masih terlalu dekat sedangkan dihadapan kita kabut dan gumpalan awan pertanda badai akan menghadang. Apakah tidak sebaiknya kita balik haluan kepantai. Nanti cuaca dan tanda-tanda badai telah berlalu barulah kita mulai perjalanan karena badai pasti berlalu…”

Nahkoda kapal menjawab….“Saya kira Anda ikut berlayar ingin mendapat pengalaman, mencari ilmu dirantau orang dan memenuhi tuntutan syarat desamu. Saya rasa sebagai Pemuda Makassar tentu pernah mendengar prinsip yang telah menjadi dendang dan nyanyian

“Takunjungan Bangung Turu’

Naku Gunciri Gulingku

Kualleanna

Tallanga Natoalia”

Prinsip ini harus kau pegang. Tegas Nahkoda. Jangan mau surut kepantai karena tanda-tanda itu. Perjalanan harus diteruskan.”

Kapalpun terus melaju, memasuki gumpalan awan, ombak dan gelombang mulai menerpa diding kapal, air laut mulai terpercik membasahi lantai kapal. Awak kapal sibuk enghadapi badai yang besar dan dahsyat. Kapal mulai oleng terombang ambing oleh badai. Dalam situasi yang kritis dan baru pertama kali dialami oleh Zainuddin,  dia berusaha menjumpai Nahkoda di kamarnya dan melapor serta minta petunjuk apa yang harus dilakukan dalm badai seperti itu.

Sekali lagi dengan tegas Nahkoda memerintahkan kepada awak kapal untuk meringankan beban kapal. “Barang muatan kapal dibuang saja ke laut….” teriak sang Nahkoda.

Tatkala barang-barang termasuk bahan makanan yang dilempar ke laut telah habis diisap air, badaipun berlalu dan kapal mulai berjalan normal dan cuaca kembali cerah. Dalam perjalanan selanjutnya satu demi satu awak kapal mulai terasa lapar dan tidak ada persiapan bahan makanan dan perjalanan masih teramat panjang.

Zainuddin kembali menemui Nahkoda dan melapor. “Pak… cuaca telah cerah dan kapal telah berjalan normal berarti kami telah berhasil melewati prinsip yang pertama “Kualleanna Tallanga Natoalia” tetapi keadaan yang dihadapi oleh awak kapal ialah mereka kelaparan dan tidak ada persiapan untuk dimakan dan ada tanda-tanda kita semua akan mati kelaparan, apa yang harus saya lakukan bersama awak kapal lainnya” kata Zainuddin

Nahkoda tetap tenang dan berfikir kemudian bangkit berdiri dan dengan tegas sekali lagi berkata kepada Zainuddin.

“Anda telah berhasil melewati dan memenuhi satu prinsip. Anda, aku dan semua awak kapal selamat dan tidak ada yang surut kembali. Kini kita berhadapan dengn prinsip yang lebih dahsyat dan keras lagi. Kita harus patuhi dan kini kita diperhadapkan pada dua pilihan dan kita harus memilih.

“Bajikangngangi Mateceraka Nakala Mate Cipuruka”

 “Pawwangngasengi Sikamma Sawiya Angkanaya Allei Badi’nu Nusitobo”

(Beritahukan kepada semua awak kapal ambil badik dan berkelahi-saling tikam) dan kematianmu akan mati berdarah bukan mati kelaparan…Itulah prinsip dan pilihan yang harus dipatuhi,…kata sang Nahkoda.

Mendengar perintah nahkoda seperti itu, Zainuddin merasa ngeri betawa awak-awak kapal dan saya sendiri akan mati sia-sia hanya karena memegang teguh dan mematuhi prinsip itu.

Zainuddin yang sudah berjanji untuk menaati perintah Nahkoda menyampaikan perintah kepada seluruh awak kapal yang disambut dengan sorak histeris dari para awak disusul dengn rintihan kematian terdengar sebagai akibat perkelahian antara mereka, lambat laun di atas kapal sunyi senyap, yang terdengar hanya bunyi air dan obak yang sekali-kali menerpa dinding kapal. Pemandangan di lantai kapal mencekam, mayat-mayat awak kapal bergelimpangan bergelimang darah…yang hidup dan tersisa hanya Zainuddin dan Sang Nahkoda.

Zainuddin menemui Nahkoda di kamarnya dan menyampaikan bahwa “semua awak kapal tidak ada lagi yang hidup, semuanya mati karena menaati prinsip, yang hidup sisa Bapak dan saya. Tentu Bapak juga sudah lapar dan sayapun sudah lapar. Apakah prinsip itu kita juga akan lakukan berdua.”

Dengan tegas Nahkoda menjawab “Ya…kita berduapun harus menaatinya dan harus melakukannya. Cabut badik yang kau bawa dan sayapun akan berbuat seperti itu. Tetapi sebelum hal itu kutanyakan padamu, karena selama ini apa yang kuperintahkan padamu selama dan sepanjang perjalanan selalu kau taati. Tidak pernah ada permintaanmu yang saya kabulkan dan semua perintahku kamu taati. Tetapi yang terakhir kali ini, apa yang kau minta, akan kupenuhi permintaanmu.”

Zainuddin menjawab saya akan patuhi prinsip itu “Bajikangngangji Matecceraka Na Matecipuruka”, tetapi saya bertanya siapa yang akan diberi kesempatan untuk mulai menikam saya atau Bapak….

Nahkoda menjawab… “Anda adalah seorang pemuda yang punya tanda-tanda pada dirimu taat kepada prinsip. Dan tidak pernah menetang kehendak majikan, saya persilahkan anda yang mulai”

Mendengar keinginan Nahkoda, maka Zainuddin pun dengan cekatan menarik badiknya dan langsung menghujamkan di dada dan perut Nahkoda. Nahkoda terhuyung-huyung karena lukanya dan berupaya untuk membalas tikaman Zainuddin, dengan harapan Zainuddin itu juga kematiannya adalah kematian berdarah bukan karena kelaparan. Tetapi, Zainuddin senantiasa mengelak dari tikaman Nahkoda dan pada akhirnya Nahkoda jatuh berlumuran darah dan mati. Sedangkan Zainuddin sedikitpun tidak mengalami goresan badik.

Tinggallah Zainuddin seorang diri dianjungan kapal merenungi mayat-mayat yang bergelimpangan terutama mayat Nahkoda kapal yang mati dalam tangannya. Menyesali atas pengkhianatan terhadap prinsip itu. Tiba-tiba terdengar suara-suara halus yang datang dari mayat-mayat yang bergelimpangan dan paling jelas terdengar suara Nahkoda kapal seolah-olah memerintah Zainuddin “Roboh prinsip itu, walaupun dalam keadaan lapar usahakan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Janganlah berbuat yang sia-sia seperti apa yang kami lakukan”.  Kapal berlayar tanpa awak tanpa Nahkoda, tinggallah Zainuddin seorang diri dan kapal terbawa oleh arus dan terdampar pada sebuah pulau.

Zainuddin meninggalkan kapal dengan penuh kenangan kengerian menuju perkampungan dan menemui orang yang ada di pulau, menceritakan keadaan dan peristiwa yang terjadi sepanjang perjalanan. Penduduk pulau itu berupaya untuk mempertemukan Zainuddin dengan Kepala Desa setempat.

Zainuddin bercerita dari awal mulai ia ikut dalam pelayaran sebagai upaya untuk memenuhi ketentuan di desanya terhadap seorang pemuda. Dalam perjalanan menemukan dua prinsip yang mengakibatkan seluruh awak kapal dan Nahkoda meninggal karena teguh memegang prinsip.

Zainuddin berkata “Bersalahkah saya Pak?”

Kepala Desa menjawab “Anda tidak perlu khawatir, tidak perlu menyesal, anda tidak bersalah, anda bukan penghianat. Tetapi anda benar dan andalah pejuang. Mematuhi sebuah prinsip harus dengan perhitungan, pertimbangan dengan menggunakan akal, pikiran, bukan emosi. Tujuanmu betul mudah-mudahan harapan dan cita-citamu dapat tercapai.”

Sepuluh tahun kemudian Zainuddin kembali ke desanya tetapi sudah ada perubahan pada dirinya sebab pada baju yang dipakai sudah terpasan papan    Nama : Dsr………………….

Zainuddin berupaya menemukan kedua orangtunya, betapa gembira keluarganya menerima kehadirannya kembali untuk membuktikan ketentuan desanya.

*.*.*