Posts Tagged ‘AQIDAH AKHLAK’

AKHLAK DALAM MASYARAKAT

Posted: Juni 13, 2013 in Sejarah Islam
Tag:

Di dalam Islam, segala sesuatu telah diatur dalam Al-Qur’an dan telah dijelaskan serta diperkuat oleh hadits Rasulullah, baik dalam sholat, zakat, berhaji, makan, berjalan, dan banyak hal lainnya, begitu pun dengan bagaimana kita berakhlak dalam masyarakat.

Hidup bermasyarakat adalah hal yang tidak bisa terlepas dari seseorang manusia. Penciptaan manusia sebagai mahluk sosial membuatnya selalu membutuhkan orang lain.

Hidup bermasyarakat tentu bukan perkara yang mudah, hal ini merupakan perkara yang tidak boleh disepelekan. Menjaga akhlak dalam hidup bermasyarakat adalah hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan agar hubungan baik dengan orang lain selalu terjalin dengan harmonis sehingga menciptakan rasa cinta, damai dan tentram di antara masyarakat.

 

Dalam pokok pembahasan ini, ada 4 hal yang harus diperhatikan, yakni :

  1. Bertamu dan Menerima Tamu

Dalam bertamu, tentu ada beberapa etika yang harus diperhatikan begitupun ketika kit menerima tamu. Aturan-aturan yang sepatutnya kita lakukan agar kiranya ukhuwwah itu semakin erat dan Allah senantiasa meridhoi.

  1. Bertamu

Beberapa etika yang perlu diperhatikan :

–       Ucapkan salam maksimal 3x

Jika salah seorang di antara kalian meminta izin 3x lalu tidak diizinkan, hendaknya ia kembali (HR. Bukhari)

–       Dilarang untuk Mengintip di Jendela.

Mengintip di jendela ketika hendak bertamu bukanlah etika yang baik dan ini menunjukkan sikap yang kurang sopan, jadi hendaknya kita menghindarinya agar si pemilik rumah tidak merasa terganggu.

–       Sopan saat bertamu.

–       Berlaku sopan/ baik itu merupakan akhlak seorang muslim. Apabila bertamu maka hendaklah mengucapkan hal-hal yang baik, berperilaku yang sopan dan ramah agar si tuan sumah tetap merasa nyaman .

–       Pilihlah waktu yang tepat dan jangan terlalu lama.

Usahakan bertamu di waktu yang tepat, misalnya di waktu sore, hindari bertamu di waktu orang lain sedang istirahat, misalnya tengah malam dan jangan terlalu lama, hal ini dianjurkan karena dikhawatir justru akan mengganggu aktivitas tuan rumah.

–       Tidak merepotkan.

 

Berbuat baik kepada tamu termasuk perkara penting yang diwajibkan oleh Rasulullah S.a.w kepada kita. Perbuatan ini termasuk hak muslim atas muslim lainnya. Termasuk ahklak yang mulia, Rasulullah S.a.w bersabda :

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, endaklah ia memuliakan tamu-tamunya dengan memberinya hadia. Apa hadianya itu ya Rasulullah? Beliau menjawab (menjaunya sehari semalam, jamuan untuk tamu ialah 3 hari dan selebihnya adalah sedekah).

 

Jamuan untuk tamu adalah 3 hari dan selebihnya (untuk bekal perjalanan) untuk sehari semamlam. Tidak halal bagi seorang muslim meneteap di rumah saudaranya kemudian membuatnya berdosa. Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah! Bagaimana ia membuatnya berdosa? Rasulullah menjawab “Ia (tamu tersebut) menetap padanya, namun tuan rumah tidak mempunyai sesuatu untuk memuliakannya.”

 

Dua hadits di atas menjelaskan bahwa jamuan bagi tamu untuk bekal perjalanan sehari-semalam dan waktu perjamuan ialah 3 hari. Nabi memedakannya antara hadiah untuk tamu dan jamuannya, bahkan terdapat riwayat yang menegaskan bahwa perjamuan adalah hak muslim atas muslim lainnya.

Dalam as-shalihah dari Uqbah bin Amir R.A. Ia berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengirim Kami, kemudian kami singgah di kaum yang tidak menjamu kami, bagaimana pendapatmu? Rasulullah berkata kepada kami “Jika kalian singgah di salah satu kau, kalau mereka memberikan kalian apa yang layak diterima tamu, maka tarimalah dan jika mereka tidak melakukannya ambillah dari mereka hak tamu yang harus mereka berikan.”

 

Nash ini menunjukkan wajibnya menjamu tamu selama sehari semalam dan ini adalah hadiah untuk tamu lalu disempunakan dengan adanya 2 hari 2 malam sehinggah kesempurnaan memuliakan tamu adalah 3 hari 3 malam.

Imam Ahmad berkata, tamu berhak menuntut semua, jika tuan rumah tidak memberikannya, karena jamuan adalah hak wajib baginya. Tentu saja menjamu tamu disesuaikan dengan kemampuan dan adat setempat. Orang yang tidak mempu menjamu secara sempurna maka tidak diwajibkan dan tamu tidak boleh meminta dijamu oleh orang yang tidak mampu menjamu. Salman r.a, seorang sahabat Nabi berkata Rasulullah melarang kami membebani diri untuk menjamu dengan sesuatu yang tidak kami miliki.  

   Tuan rumah tidak wajib membantu tamunya kecuali dengan sesuatu yang dimilikinya. Jika tuan rumah tidak memiliki sesuatu pun, ia tidak wajib memberi tamunya. Tapi, jika tuan rumah mau menutamakan tamunya dari dirinya sendiri seperti yang dilakukan orang-orang Anshar, dimana dengan sebab perbuatan mereka Allah turunkan Firman-Nya :

tûïÏ%©!$#ur râä§qt7s? u‘#¤$!$# z`»yJƒM}$#ur `ÏB ö/ʼnÏ=ö7s% tbq™7Ïtä† ô`tB ty_$yd öNÍköŽs9Î) Ÿwur tbr߉Ågs† ’Îû öNÏd͑r߉߹ Zpy_%tn !$£JÏiB (#qè?ré& šcrãÏO÷sãƒur #’n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4 `tBur s-qム£xä© ¾ÏmÅ¡øÿtR šÍ´¯»s9’ré’sù ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÒÈ  

Artinya : “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”.

 

Demi mengamalkan hadits nabi “Tidak halal seorang bertamu hingga menyusahkan tuan rumah”  Jadi, menjamu tamu adalah bentuk infaq, yang wajib dan diambil dari makanan yang dimiliki. Jadi, infaq tersebut hanya diwajibkan kepada orang yang makanan darinya ada, tidak boleh menyulitkan diri dalam hal ini. Adapun menjamu tamu (yang tidak bermalam) maka kita pun wajib melayaninya dengan baik, berlaku baik sehingga tamu tersebut merasa dihormati.

 

 

  1. B.   HUBUNGAN BAIK DENGAN TETANGGA

Memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga adalah perkara yang sangat ditentukan dalam syariat islam, hal ini juga telah diperintahkan Allah dalam Firman-Nya

(#r߉ç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.Ύô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) “É‹Î/ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur ͑$pgø:$#ur “ÏŒ 4’n1öà)ø9$# ͑$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·‘qã‚sù ÇÌÏÈ  

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[1], dan teman sejawat, Ibnu sabil[2] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”(QS. An-Nisa:36)

 

Selain Rasulullah pun mencontohkan kepada kita agar senantiasa memuliakan tetangga kita. Dar Abu Hurairah Ra, dari Rasulullah Saw bersabda :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata baik/diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tetangganya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. (HR.  Bukhari dan Muslim)”

 

Sebagai seorang muslim yang baik maka hendaklah kita senantiasa memperlakukan tetangga kita dengan senantiasa memperhatikan dan memuliakan haknya. Hak seorang tetangga ini dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :

  1. Berbuat Baik (Ihsan) Kepada Tetangga

Diantar ihsab kepada tetangga adalah ta’ziah ketika mereka mendapatkan musibah, mengucapkan salam ketika mendapatkan kebahagiaan, menjenguknya ketika sakit, dan bermuka manis ketika bertemu dengannya serta membantu membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akhirat. Sebagian ulama berkata, kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada 4 hal, yaitu :

  1. Senang dan bahagia dengan apa yang dimilikinya
  2. Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya
  3. Mencegah gangguan dengannya
  4. Bersabar dari gangguangnya

        

  1. Sabar Menghadapi Gangguan Tetangga

Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek mereka khususnya kesalahan yang tidak disengaja/ sudah sesali kejadiannya.

Hasan Al-Bashri berkata:

Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya

 

 

 

 

  1. Menjaga dan Memelihara Tetangga

Imam Ibnu Abi Jamroh berkata, menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman orang jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan memberikan beraneka ragam sesuai kemampuan, seperti salam, bermuka manis ketika bertemu, menahan sebab-sebab yang mengganggu mereka dengan segala macam nya, baik jasmani dan rohani.

 

  1. Tidak Mengganggu Tetangga

Telah dijelaskan diatas kedudukan tetatngga yang tinggi dan hak-haknya yang terjaga di dalam islam. Rasulullah Saw memperingatkan dengan keras upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabdanya yaitu:

“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidakaman dari kejahatannya” (HR.Muslim).

 

 

  1. C.   ADAB PERGAULAN DENGAN LAWAN JENIS

       Bersahabat dengan lawan jenis tentu bukan suatu hal yang diharamkan dalam agama, akan tetapi agar tidak terjadi fitnah, maka alangkah baiknya, kita senantiasa memperhatikan beberapa batasan-batasan dalam bergaul dengan lawan jenis.

 

       Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bergaul dengan lawan jenis, diantaranya yaitu :

  1. Senantiasa menundukkan pandangan.

Menundukkan pandangan adalah suatu hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw karena sesungguhnya dengan menundukkan pandangan, akan menjadi sebab Allah ridha kepadanya, dan akan senantiasa membuat qalbunya tentram. Sebab mata aalah cerminan qalbu. Orang yang matanya liar melihat apa saja, qalbunya akan menjadi tidak tenang. Sedangkan orang yang menundukkan pandangannya, berarti ia menundukkan qalbunya dari syahwat dan nafsu. Namun kalau ia liar memandang ke mana saja maka qalbunya ikut menjadi liar mengumbar nafsu.

“Katakan kepaa orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” (An-Nur : 30)

Syaikhul islam Ibnu Tamuan berkata mengenai ayat ini, Allah Swt menjadikan sikap menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan sebagai upaya paling kuat untuk membersihkan jiwa itu mencakup hilangnya segala keburukan berupa perbuatan keji, kezaliman, kesirikan, kedustaan, dsb.

“Wahai Ali, janganlah engkau turutkan pandangan (pertama) dengan pandangan (ke-2) karena engkau berhak (yakin tidak berdosa) pada pandangan (pertama) tetapi tidak hak pada pandangan ke dua” (HR.  Abu Daud, Tirmizi).

Di hadits juga menjelaskan tentang hal ini. Jarir bin Abdullah berkata, aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) maka beliau bersabda “Palingkan pandanganmu” (HR. Muslim)

 

  1. Menjaga hijab/ tidak berkhalwat

Hal yang kedua yang harus kita perhatikan dalam bergaul dengan lawan jenis adalah agar kita senantiasa menjaga hijab, tidak terlalu bercampur baur dengan lawan jenis agar kita senantiasa menjaga dijauhkan dari fitnah. Selain itu, kita dilarang untuk berkhalwat atau berduan dengan lawan jenis. “Janganlah laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali bersama mahrom” (HR. Muslim). Selain itu, di hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim, Rasulullah Saw bersabda “Ketahuilah tidaklah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita kecuali yang ke tiga adalah syaitan.” Dan di hadits lainpun di katakan bahwa “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangnlah sekali-kali menyendiri dengan perempuan lain yang tidak disertai mahramnya. Karena ditempat yang sepi itu ada setan yang senantiasa mengajak berbuat zina” (al-hadits)[3]

             Kita juga dilarang untuk bersentuhan dengan lawan jenis karena itulah kita harus senantiasa memberi batasan dalam bergaul dengan mereka, hindari hal-hal yang bisa membuat kita saling bercampur baur dan bersentuhan dengan lawan jenis.

             Dari Aisyah ra, “Rasulullah S.a.w tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita kecuali yang dimiliki” (HR.  Bukhari).

 

Dan suatu kecelakaan besar, apabila menyepelekan hal seperti ini sesungguhnya ditusukkan kepada salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya (HR.  Baihaqi, Ath-Tabrani) 

 

Hadits ini memberikan gambaran betapa hinanya menyentuh seorang yang bukan muhrimnya. Bahkan ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh seorang yang bukan muhrimnya. Rasulullah pun mengabarkan kepada umat manusia agar senantiasa berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis karena dapat membuka pintu fitnah.

 

Tidaklah ku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya laki-laki melainkan fitnah yang datang dari wanita. (HR.  Muttafaqun Alaih)

 

  1. Berkomunikasi untuk hal yang penting saja.

Untuk menghindari timbulnya perasaan saling mengagumi maka dianjurkan untuk membatasi pergaulan dengan lawan jenis. Cukuplah berkomunikasi untuk hal-hal yang penting dan hindari kebiasaan bercanda dengan lawan jenis karena ini bisa menimbulkan rasa kagum yang akan berujung pada rasa cinta. Dan kemungkinan terbesar, cinta ini adalah cinta yang hanya berlandas pada nafsu dan akan menodai kesucian cinta itu. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa bersikap wara’ dalam bergaul dengan lawan jenis.

 

 

 

  1. D.     UKHUWAH ISLAMIYAH

Ukhuwah Islamiyah bisa kita artikan sebagai persaudaraan di antara umat islam, dimana persaudaraan diantara seorang muslim diibaratkan sebagai bangunan yang kokoh yang sedang menguatkan. Sebagai umat islam, ada hal-hal yang harus ditunaikan anatar sesama umat islam sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam sabdanya :

Hak seorang muslim dengan muslim ada 6 yaitu:

“Apabila engkau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu, penuhilah, apabila dia meminta nasehat kepadamu berilah nasehat, apabila dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, ucapkanlah Yarhamukallah, apabila dia sakit, jenguklah dan apabila dia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya” (HR. Bukhari Muslim)  

 

Jadi, ada 6 hak seorang muslim sebagaimana yang disebutkan dalam hadits diatas, yaitu :

  1. Apabila engakau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

 لَ ا تَدْ خُلُونَ الجْنة حتي تؤ منوا ول ا تؤمنوا حتي تحا بوا أول ا أد لكم علي شيء إŒا فعلتموه تحا ببتم أفشوا الشل م بينكم

“Kalian tidak akan masuk surga, kecuali dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!” (HR. Muslim)

 

Selain itu, kita dianjurkan untuk saling memberi salam tidak hanya kepada orang-orang yang kita kenal saja tetapi begitupun dengan orang yang belum kita kenal. Dari Abdullah ibn Amr r.a., “Seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Apa yang terbaik dalam islam?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah menyebarkan salam berarti banyak menyebut Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS. AL-Ahzab: 35)

Beberapa kejahatan yang gagal dengan adanya kalimat as-salamu ‘alaikum! Beberapa banyak kebaikan diperoleh dengan kalimat, as-salamu ‘alaikum! Beberapa banyak hubungan persaudaraan terjalin dengan kalimat as-salamu ‘alaikum![4]

 

  1. Apabila ia mengundangmu penuhilah

Dari Ibnu Umar Ibnu Umar ra., Rasulullah saw bersabda “Penuhilah undangan jika kalian diundang (HR. Muslim) dan di hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda “Jika seorang diantara kamu diundang maka hendaklah ia menghadirinya jika dia sedang berpuasa maka doakanlah dan kalau tidak berpuasa hendaklah dia makan.” (HR. Muslim No.78)[5]

Dari Jabir Abdullah ra, ia berkata “Rasulullah saw bersabda :

إŒادعي أحد كم  إل طعا م فليجب، فإ ن شا ء طعم وإن شاء ترك

“Bila salah seorang di antara kamu diundang ke suatu jamuan makan, maka hendaklah ia memenuhinya. Bila ia menghendaki dapat memakannya, dan bila menghendaki apat membiarkannya”[6]

 

 

  1. Apabila dia minta nasehat maka nasehatilah

Menurut istilah syar’i, Ibnu al-Atsir menyebutkan, “Nasehat adalah sebuah kata yang mengungkapkan suatu kalimat yang sempurna, yaitu keinginan (memberikan) kebaikan kepada orang yang dinasehati. Makna tersebut tidak bisa diungkapkan hanya dengan satu kata, sehingga harus bergabung dengannya kata yang lain” (An-Nihayah (V/62). Ini semakna dengan defenisi yang disampaikan oleh Imam Khaththabi. Beliau berkata, “Nasehat adalah sebuah kata yang jami‘ (luas maknanya) yang berarti mengerahkan segala yang dimiliki demi (kebaikan) orang yang dinasihati. Ia merupakan sebuah kata yang ringkas (namun luas maknanya). Tidak ada satu kata pun dalam bahasa Arab yang bisa mengungkapkan makna dari kata (nasehat) ini, kecuali bila digabung dengan kata lain.” (I’lamul-Hadits (I/189-190) dan Syarah Shahih Muslim (II/32-33), lihat Fathul Bari (I/167))[7].

Suatu keharusan bagi setiap umat manusia untuk selagi menasehati dalam kebaikan, selagi mengajak kepada yang ma’ruf dan selalu mengingatkn ketika saudaranya khilaf. Firman Allah dalam al-qur’an :

 äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[8] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl:125)

 

Di dalam hadits Rasulullah, di jelaskan beberapa tahap dalam menasehati dan hendaklah kita mengikuti agar bisa mendapat kemuliaannya, sabda Rasulullah “Barangsiapa yang melihat perkara mungkar, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, maka hal yang terakhir ini sebagai pertinda selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi)

 

Dan sungguh mulia kedudukan orang yang menunjukkan jalan kebaikan, maka dari itu hendaklah kita selalu mengingatkan. Karena orang yang mengingatkan akan mendapat pahala sebagaimana hadit Rasulullah “Barangsiapa yang menunjukkan jalan kebaikan, ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR.Muslim).

Ada beberapa keutamaan dalam memberikan nasehat sebagaimana yang telah diilustrasikan dalam al-qur’an, Menasehati hamba-hamba Allah kepada hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka merupakan tugas para rasul. Allah mengabarkan perkataan nabi-Nya, Hud, ketika menasehati kaumnya, “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian dan aku ini hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” (Q.S. Al-A‘raf: 68).

Allah juga menyebutkan perkataan nabi-Nya, Shalih, kepada kaumnya setelah Allah menimpakan bencana kepada mereka, “Maka Shalih berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’” (Q.S. Al-A‘raf: 79).

Maka seorang hamba akan memperoleh kemuliaan manakala dia melaksanakan apa yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul. Nasehat merupakan salah satu sebab yang menjadikan tingginya derajat para nabi, maka barangsiapa yang ingin ditinggikan derajatnya di sisi Allah, Pencipta langit dan bumi, maka hendaknya dia melaksanakan tugas yang agung ini (Qawaid wa Fawaid (hal. 94-95)).[9]

 

 

 

  1. Apabila dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka ucapkanlah Yarhamukallah

Dari Ali ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan alhamdulillah, dan hendaknya saudaranya mengucapkan untuknya yarhamukallah. Apabila ia mengucapkan kepadanya yarhamukallah, hendaklah ia (orang yang bersin) mengucapkan yahdii kumullah wa yushlihu balaakum (artinya = Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR.Bukhari)[10]

 

  1. Apabila dia  sakit, jenguklah

Ada pahala yang besar dalam perbuatan ini dan menjenguk orang yang sakit sangat dinjurkan. Rasulullah bersabda,

من عاد مر يضا لم يز ل في خر فة الجنة قيل يا رسول الله وما خرفة الجنة قال جناها

“Barangsiapa menjenguk orang yang sakit, maka ia akan selalu berada dalam kebun surga.” Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kebun surga itu?” Rasulullah menjawab, “Buah-buahnya.” (HR.Muslim)

Ada banyak nilai positif dalam menjenguk orang yang sakit. Di antaranya: mendoakannya, mendapakan pahala dari menjenguknya, terutama dalam menghibur keluarganya. Bukhari meriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah, “Aku sedang sakit dan Rasulullah bersama Abu Bakar menjengukku dengan jalan kaki. Ketika itu aku sedang pingsan. Nabi segera mengambil air wudhu kemudian meneteskan air wudhu itu kepalaku. Ketika tersadar, ternyata itu Nabi.”[11] 

 

  1. Apabila dia meninggal dunia antarkanlah jenazahnya

“Barangsiapa yang mengantarkan jenazah seorang islam dengan rasa Iman dan karena Allah sematadia menghadirinya sampai di shalati dan sampai selesai penguburannya, maka ia telah kembali dengan mendapat dua qirath tiap-tiap qirat itu semisal besarnya gunung uhud.” (HR. Bukhari)

 

Nafi’ berkata, “Diceritakan kepada Ibnu Umar bahwa Abu Hurairah berkata, “Barangsiapa yang mengiringkan jenazah, maka ia mendapatkan satu qirath.’ Ibnu Umar berkata, ‘Abu Hurairah terlalu banyak mengatakannya kepada kami.’ Lalu Aisyah membenarkan Abu Hurairah seraya berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda begitu.’ Kemudian Ibnu Umar berkata, ‘Sungguh kami telah mengabaikan banyak qirath.”[12]
 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

    

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] .  Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim.

[2] .   Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.

[3] Indra, Hasbi, Potret Wanita Shalehah,Jakarta:Penamadani,2004 (hal 177)

[4] Mustafa al-‘adawy. Fikih Akhlak,Jakarta:Qisthipress, 2005 (hal  39-41)

[5] Hadits web, kitab nikah

[6] Khaulah Binti. Bagaimana Muslimah Bergaul.Jakarta: Maktabatus-Swady, 1993 (hal 28)  

[7] Hadits Web: Fiqih Nasehat

[8] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

[9] Hadits web, Fiqih Nasehat, yang diambil dari majalah Fatawa

[10] Hadits web, Kitab Adab dan Kesopanan. Diambil dari Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam,   Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani

[11] Mustafa al-‘adawy. Fikih Akhlak,Jakarta:Qisthipress, 2005 (hal  464-466)

[12] Hadits Web. Kitab Jenazah. Yang bersumber dari Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press