Archive for the ‘Cerita’ Category

Bagian Tubuh Yang Paling Penting

Ibuku selalu bertanya kepadaku, apa bagian tubuh yang paling penting?. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, “Telinga, Bu.” Ternyata itu bukan jawabannya.
“Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku akan menanyakannya lagi nanti.”
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya kepadaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini Aku memberitahukannya. “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita.”
Dia memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.”
Gagal lagi, aku akan meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya kepadaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku.”
Tahun lalu, Kakekku meninggal. Semua keluarga bersedih. Semua menangis. Bahkan, Ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat pertama kalinya aku lihat dia menangis. Ibuku memandangku ketika tiba gilirangku untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kakek.
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayangku?”
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berfikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan Aku.
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, ”Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu benar-benar hidup. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan Aku telah memberitahu kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari dimana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting.”
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah BAHUMU.”
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala kita?”
Ibu menjawab, “Ia, tapi bukan hanya itu, bahu juga dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku Cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman, agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapanpun kamu membutuhkan atau sebaliknya.
Akhirnya, Aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang  TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti. 

Kearifan Emas

Posted: April 22, 2014 in Cerita, Motivasi
Kearifan Emas

Seorang Anak mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, Saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”

Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Nak, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, Anak tadi merasa ragu, “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini busa dijual seharga itu.”

“Cobalah dulu, Nak. Siapa tahu kamu berhasil.”

Anak itupun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada orang lain. Ternyata, tak seorangpun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, Anak itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke tempat Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorangpun berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberi penilaian.”

Anak itupun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali melapor dengan raut wajah yang berseri-seri. Ia kemudian berkata “Guru, ternyata pedagang di toko atau tukang emas tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.”

Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang diitawar oleh para pedagang di pasar.

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi Anak musa. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiaanya. Hanya para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas.” 

“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itulah proses, wahai Nak. Kita tak bisa menilai hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata perak dan yang kita lihat sebagai perak ternyata emas.”

7 Anugrah Tuhan (7 Keajaiban Dunia)

Posted: November 24, 2013 in Cerita, Motivasi

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “Tujuh Keajaiban Dunia”. Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi :

“Tujuh Keajaiban Dunia”
1.    Piramida
2.    Taj Mahal
3.    Tembok Besar China
4.    Menara Pisa
5.    Menara Eifel
6.    Liberty
7.    Colosseum
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dalam membuat daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab “Ya, sedikit. Saya tidak bisa mimilih karena sangat banyaknya.” Sang guru berkata, “baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, “Saya pikir, Tujuh Keajaiban Dunia” adalah,
1.    Bisa melihat
2.    Bisa mendengar
3.    Bisa menyentuh
4.    Bisa menyayangi, dia ragu, dan kemudian melanjutkan,
5.    Bisa merasakan
6.    Bisa tertawa
7.    Dan, bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban”. Sementara kita lihat lagi semua telah tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya “biasa”. Semoga hari anda dapat diingatkan tentang segala hal yang betul ajaib dalam kehidupan anda.

Paku Dan Amarah

Posted: November 11, 2013 in Cerita, Motivasi

Suatu ketika, hiduplah seorang anak laki-laki yang pemarah dan keras kepala. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan kepada anaknya untuk memakukan sebuah paku di pohon belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 35 buah paku ke pohon setiap kali dia marah, lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pohon.
Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pohon. “Hmmm…, kmu telah berhasil dengan baik anakku, akan tetapi lihatlah lubang-lubang di pohon ini. Pohon ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini. . .di hati orang lain.”
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu, tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada, dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik….”  

Sang Pemenang

Posted: November 11, 2013 in Cerita, Motivasi

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang pembalap sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
Ada seseorang anak yang bernama Yaya. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk fainal. Dibanding semua lawannya, mibil Yaya lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu berkedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Akan tetapi, Yaya bangga dengan apa yang dimiliki  semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun, sesaat kemudian, Yaya meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdo’a, matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan do’a, lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, Aku siap!”.
Dor…. tanda balapan telah dimula, dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo…ayo…ayo…cepat…cepat….maju…maju….”, begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah menanti. Dan, Yaya lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Yaya. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi delam hati. “Terima kasih”.

Saat pembagian piala tiba. Yaya maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdo’a kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?”. Yaya terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Yaya.
Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. Aku, hanya bermohon kepada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah”. Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Garam Dan Telaga

Posted: November 9, 2013 in Cerita, Motivasi

Suatu ketika, hiduplah Orang Tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirudung dalam banyak masalah. Langkahnya gontai dan mimik mukanya yang ruwet. Anak Muda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkan dengan seksama. Setelah anak muda tadi selesai menceritakan masalahnya, sang Orang Tua bijak pun mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dilarutkannya garam tersebut kedalam  gelas yang berisi air. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…” ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatlah gelombang mengaduk-ngaduk dan tercipta riak air yang mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah”. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si Anak Muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si Anak Muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di pinggir telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih baik dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.”
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita melatakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adlaha wadah itu. Perasaanmu adalah benda itu. Qalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mempu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.   

Download E-Book Gratis

Posted: September 5, 2013 in Cerita, E-Book

Download Ebook Gratis dengan format *chm, *pdf, dll. 

Langsung saja download file-filenya (E-book) berikut :


1. Novel Karya A.A.Navis


2. Kumpulan Dongen-Dongen Anak


3. Kisah 1001 Malam – Abu Nawas Sang Penggeli Hati


4. Lima Sekawan

D I L E M A

Posted: Juni 13, 2013 in Buku, Cerpen
Tag:, , ,

Di sebuah desa, terdapat seorang pemuda yang bernama Zainuddin. Ada syarat bahwa seorang pemuda barulah dapat disebut pemuda tangguh, apabila pernah meninggalkan desanya berlayar mengarungi lautan dan melihat perkembangan di daerah lain mencari ilmu, tidak mesti tetap tinggal di desa sendiri dengan mengandalkan apa yang ada.

Zainuddin berpikir untuk memenuhi syarat itu.

Dengan bekal apa adanya Zainuddin mendekati pantai. Di pantai sedang sandar dan berlabuh sebuah kapal, Zainuddin menemui nahkoda kapal tersebut. Setelah bertemu, Zainuddin mengutarakan maksudnya untuk ikut berlayar guna memenuhi syarat sebagai seorang pemuda tangguh.

Mendengar maksud itu Sang Nahkoda pun menerima Zainuddin, dengan penekanan bahwa selama Zainuddin ikut dalam pelayaran, dia harus taat terhadap perintah Nahkoda.

Zainuddin menganggup siap…

Tibalah jam yang ditetapkan untuk berlayar maka kapal itu meninggalkan pelabuhan. Baru saja beberapa menit kapal meninggalkan pantai, terlihat cahaya kilat dan terdengar bunyi petir sedangkan di hadapan kapal terlihat kabut pertanda badai akan menghadang. Melihat cuaca seperti itu, Zainuddin menemui Nahkoda dan melapor keadaan cuaca dan keadaan kapal.

Pak……,kata Zainuddin pada Nahkoda, “Pantai masih jelas kelihatan masih terlalu dekat sedangkan dihadapan kita kabut dan gumpalan awan pertanda badai akan menghadang. Apakah tidak sebaiknya kita balik haluan kepantai. Nanti cuaca dan tanda-tanda badai telah berlalu barulah kita mulai perjalanan karena badai pasti berlalu…”

Nahkoda kapal menjawab….“Saya kira Anda ikut berlayar ingin mendapat pengalaman, mencari ilmu dirantau orang dan memenuhi tuntutan syarat desamu. Saya rasa sebagai Pemuda Makassar tentu pernah mendengar prinsip yang telah menjadi dendang dan nyanyian

“Takunjungan Bangung Turu’

Naku Gunciri Gulingku

Kualleanna

Tallanga Natoalia”

Prinsip ini harus kau pegang. Tegas Nahkoda. Jangan mau surut kepantai karena tanda-tanda itu. Perjalanan harus diteruskan.”

Kapalpun terus melaju, memasuki gumpalan awan, ombak dan gelombang mulai menerpa diding kapal, air laut mulai terpercik membasahi lantai kapal. Awak kapal sibuk enghadapi badai yang besar dan dahsyat. Kapal mulai oleng terombang ambing oleh badai. Dalam situasi yang kritis dan baru pertama kali dialami oleh Zainuddin,  dia berusaha menjumpai Nahkoda di kamarnya dan melapor serta minta petunjuk apa yang harus dilakukan dalm badai seperti itu.

Sekali lagi dengan tegas Nahkoda memerintahkan kepada awak kapal untuk meringankan beban kapal. “Barang muatan kapal dibuang saja ke laut….” teriak sang Nahkoda.

Tatkala barang-barang termasuk bahan makanan yang dilempar ke laut telah habis diisap air, badaipun berlalu dan kapal mulai berjalan normal dan cuaca kembali cerah. Dalam perjalanan selanjutnya satu demi satu awak kapal mulai terasa lapar dan tidak ada persiapan bahan makanan dan perjalanan masih teramat panjang.

Zainuddin kembali menemui Nahkoda dan melapor. “Pak… cuaca telah cerah dan kapal telah berjalan normal berarti kami telah berhasil melewati prinsip yang pertama “Kualleanna Tallanga Natoalia” tetapi keadaan yang dihadapi oleh awak kapal ialah mereka kelaparan dan tidak ada persiapan untuk dimakan dan ada tanda-tanda kita semua akan mati kelaparan, apa yang harus saya lakukan bersama awak kapal lainnya” kata Zainuddin

Nahkoda tetap tenang dan berfikir kemudian bangkit berdiri dan dengan tegas sekali lagi berkata kepada Zainuddin.

“Anda telah berhasil melewati dan memenuhi satu prinsip. Anda, aku dan semua awak kapal selamat dan tidak ada yang surut kembali. Kini kita berhadapan dengn prinsip yang lebih dahsyat dan keras lagi. Kita harus patuhi dan kini kita diperhadapkan pada dua pilihan dan kita harus memilih.

“Bajikangngangi Mateceraka Nakala Mate Cipuruka”

 “Pawwangngasengi Sikamma Sawiya Angkanaya Allei Badi’nu Nusitobo”

(Beritahukan kepada semua awak kapal ambil badik dan berkelahi-saling tikam) dan kematianmu akan mati berdarah bukan mati kelaparan…Itulah prinsip dan pilihan yang harus dipatuhi,…kata sang Nahkoda.

Mendengar perintah nahkoda seperti itu, Zainuddin merasa ngeri betawa awak-awak kapal dan saya sendiri akan mati sia-sia hanya karena memegang teguh dan mematuhi prinsip itu.

Zainuddin yang sudah berjanji untuk menaati perintah Nahkoda menyampaikan perintah kepada seluruh awak kapal yang disambut dengan sorak histeris dari para awak disusul dengn rintihan kematian terdengar sebagai akibat perkelahian antara mereka, lambat laun di atas kapal sunyi senyap, yang terdengar hanya bunyi air dan obak yang sekali-kali menerpa dinding kapal. Pemandangan di lantai kapal mencekam, mayat-mayat awak kapal bergelimpangan bergelimang darah…yang hidup dan tersisa hanya Zainuddin dan Sang Nahkoda.

Zainuddin menemui Nahkoda di kamarnya dan menyampaikan bahwa “semua awak kapal tidak ada lagi yang hidup, semuanya mati karena menaati prinsip, yang hidup sisa Bapak dan saya. Tentu Bapak juga sudah lapar dan sayapun sudah lapar. Apakah prinsip itu kita juga akan lakukan berdua.”

Dengan tegas Nahkoda menjawab “Ya…kita berduapun harus menaatinya dan harus melakukannya. Cabut badik yang kau bawa dan sayapun akan berbuat seperti itu. Tetapi sebelum hal itu kutanyakan padamu, karena selama ini apa yang kuperintahkan padamu selama dan sepanjang perjalanan selalu kau taati. Tidak pernah ada permintaanmu yang saya kabulkan dan semua perintahku kamu taati. Tetapi yang terakhir kali ini, apa yang kau minta, akan kupenuhi permintaanmu.”

Zainuddin menjawab saya akan patuhi prinsip itu “Bajikangngangji Matecceraka Na Matecipuruka”, tetapi saya bertanya siapa yang akan diberi kesempatan untuk mulai menikam saya atau Bapak….

Nahkoda menjawab… “Anda adalah seorang pemuda yang punya tanda-tanda pada dirimu taat kepada prinsip. Dan tidak pernah menetang kehendak majikan, saya persilahkan anda yang mulai”

Mendengar keinginan Nahkoda, maka Zainuddin pun dengan cekatan menarik badiknya dan langsung menghujamkan di dada dan perut Nahkoda. Nahkoda terhuyung-huyung karena lukanya dan berupaya untuk membalas tikaman Zainuddin, dengan harapan Zainuddin itu juga kematiannya adalah kematian berdarah bukan karena kelaparan. Tetapi, Zainuddin senantiasa mengelak dari tikaman Nahkoda dan pada akhirnya Nahkoda jatuh berlumuran darah dan mati. Sedangkan Zainuddin sedikitpun tidak mengalami goresan badik.

Tinggallah Zainuddin seorang diri dianjungan kapal merenungi mayat-mayat yang bergelimpangan terutama mayat Nahkoda kapal yang mati dalam tangannya. Menyesali atas pengkhianatan terhadap prinsip itu. Tiba-tiba terdengar suara-suara halus yang datang dari mayat-mayat yang bergelimpangan dan paling jelas terdengar suara Nahkoda kapal seolah-olah memerintah Zainuddin “Roboh prinsip itu, walaupun dalam keadaan lapar usahakan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Janganlah berbuat yang sia-sia seperti apa yang kami lakukan”.  Kapal berlayar tanpa awak tanpa Nahkoda, tinggallah Zainuddin seorang diri dan kapal terbawa oleh arus dan terdampar pada sebuah pulau.

Zainuddin meninggalkan kapal dengan penuh kenangan kengerian menuju perkampungan dan menemui orang yang ada di pulau, menceritakan keadaan dan peristiwa yang terjadi sepanjang perjalanan. Penduduk pulau itu berupaya untuk mempertemukan Zainuddin dengan Kepala Desa setempat.

Zainuddin bercerita dari awal mulai ia ikut dalam pelayaran sebagai upaya untuk memenuhi ketentuan di desanya terhadap seorang pemuda. Dalam perjalanan menemukan dua prinsip yang mengakibatkan seluruh awak kapal dan Nahkoda meninggal karena teguh memegang prinsip.

Zainuddin berkata “Bersalahkah saya Pak?”

Kepala Desa menjawab “Anda tidak perlu khawatir, tidak perlu menyesal, anda tidak bersalah, anda bukan penghianat. Tetapi anda benar dan andalah pejuang. Mematuhi sebuah prinsip harus dengan perhitungan, pertimbangan dengan menggunakan akal, pikiran, bukan emosi. Tujuanmu betul mudah-mudahan harapan dan cita-citamu dapat tercapai.”

Sepuluh tahun kemudian Zainuddin kembali ke desanya tetapi sudah ada perubahan pada dirinya sebab pada baju yang dipakai sudah terpasan papan    Nama : Dsr………………….

Zainuddin berupaya menemukan kedua orangtunya, betapa gembira keluarganya menerima kehadirannya kembali untuk membuktikan ketentuan desanya.

*.*.*